Takalar SulSel — Di bawah langit suliang khas Takalar yang terasa semangat, momentum peringatan 66 tahun berdirinya Kabupaten Takalar bukan hanya menjadi sorak-sorai retrospektif akan pencapaian masa lalu, tetapi juga semangat membariskan langkah menuju masa depan yang lebih cerah.
Momentum ini, dalam pandangan Muhammad Aksin Suarso, SS. M.Pd, lebih dikenal sebagai Daeng Tombong, kepala Desa Bontokassi kecamatan Galesong Selatan kabupaten Takalar—menjadi pemicu kesadaran kolektif bagi seluruh kepala desa, untuk menjadi garda terdepan dalam menggenjot visi kabupaten yang lebih modern dan tertata.
“Setiap desa adalah potongan puzzle besar dari mimpinya Takalar. Jika satu bidak bergerak, seluruh peta akan bergeser,” ujar Daeng Tombong, menegaskan komitmen desanya menggalakkan sinergi. Di bawah kepemimpinan Penjabat Bupati H. Mohammad Firdaus Daeng Manye dan Wakil Bupati Dr. H. Hengky Yasin, S.Sos., MM, program pemerintah kabupaten kini tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana —cara—kegiatan fisik itu berdampak langsung pada kehidupan warganya. Dari penataan drainase yang menghindari banjir musiman, pembangunan gedung serba guna, hingga penyediaan fasilitas umum ramah disabilitas, langkahnya tajam: cepat, berkualitas, dan tepat sasaran.
Namun, yang lebih menarik perhatian adalah langkah berani Takalar memasuki lanskap digital. “Kita tidak ingin hanya menjadi kabupaten dengan jalan raya dan pabrik, tetapi jalan dan pabrik yang terhubung dengan ekosistem digital,” tugas Daeng Tombong. Di bawah Arah bupati, perencanaan tata ruang mulai mengintegrasikan infrastruktur pendukung ekonomi digital—jaringan internet cepat, pusat data desa, hingga pelatihan literasi teknologi untuk UMKM lokal. Ini bukan sekedar kata kunci, melainkan strategi konkret agar Takalar tidak tertinggal di era global yang semakin kompetitif.
Desa Bontokassi sendiri menjadi salah satu contoh inovasi yang diterapkan. Dulunya kawasan dengan keterbatasan sarana, kini mulai menjadi proyek percontohan smart village dengan sistem pemerintahan digital, transparansi anggaran, dan pengelolaan lingkungan berbasis teknologi. Kemajuan ini bukanlah hasil keajaiban, melainkan hasil kolaborasi yang solid antar aparatur desa, masyarakat, dan pihak luar. “Kita tidak memimpin dari depan, tetapi jalan beriringan,” ujarnya, menggambarkan filosofi kepemimpinan yang kolaboratif.
Pemikiran progresif ini sesuai dengan semangat “Gerak Cepat” yang digaungkan pemerintah kabupaten. Berbagai proyek yang dulunya dianggap idealis mulai berwujud konkret. Jalan-jalan desa yang dulu berlumpur kini beralas beton; sekolah yang sempat nyaman dipindahkan ke gedung layak; Bahkan, pasar tradisional mulai dikembangkan menjadi pusat e-commerce lokal. Laju percepatan ini tidak sekadar membangun fisik, tetapi menciptakan ekosistem dimana setiap warga dapat merasakan manfaatnya secara langsung.
Dengan usia 66 tahun, Takalar tengah mengejar transformasi yang tidak hanya mengubah pemandangan, tetapi juga cara berpikir. “Kita ingin Takalar yang siap menghadapi tahun 2030, bukan hanya tahun 2025,” tambah Daeng Tombong. Di sini, peran kepala desa bukan sekadar administratif, tetapi sebagai juru rancang perubahan.
Bulan Ramadhan ini, angin perubahan membawa semangat yang baru. Sebagai catatan penutup peringatan hari jadi, mungkin ini adalah waktu yang ideal untuk bertanya: Apa arti 66 tahun bagi Takalar? Jawabannya mungkin sederhana: Takalar yang bergerak cepat bukan untuk menjadi terbaik, tetapi agar terbaik yang datang ke sini —ke sini, tempat lumpur di bontokassi tidak lagi gelap, tetapi penuh potensi.

