Bulukumba SulSel — Rencana penyerapan tenaga kerja melalui pembangunan industri petrokimia di Bulukumba kerap dipromosikan sebagai solusi membuka lapangan kerja. Namun janji tersebut hanyalah solusi palsu yang menyesatkan masyarakat.
Menurut Wa’dil sebagai Koordinator mimbar pada aksi Gerakan Perlawanan Rakyat (GPR) Bontobahari.
“Kebutuhan tenaga kerja memang melonjak saat fase konstruksi pabrik, melibatkan buruh bangunan, teknisi, dan kontraktor. Namun sifatnya sementara. Begitu pabrik beroperasi, kebutuhan tenaga kerja menurun drastis karena proses produksi yang padat teknologi dan otomatisasi. Serapan tenaga kerja jangka panjang tidak sebanding dengan janji awal. Jum’at (06 Februari 2026).
Bulukumba memiliki industri pariwisata berbasis alam, budaya, dan pesisir—seperti kawasan Bira—yang menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan: pemandu wisata, penginapan, kuliner, transportasi, hingga produk lokal. Kehadiran industri petrokimia berisiko merusak lingkungan pesisir dan citra destinasi wisata. Jika kualitas laut, pantai, dan udara menurun, wisatawan akan berkurang, sehingga lapangan kerja yang sudah mapan bisa hilang. Lanjut Wa’dil
Sejalan dengan Wa’dil , Fajri salah satu peserta aksi juga mengatakan bahwa “Alih-alih menambah, industri petrokimia justru menggeser sumber penghidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan.
Industri petrokimia juga membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus, seperti insinyur kimia dan operator mesin canggih. Posisi kunci biasanya diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah, masyarakat lokal hanya mendapat pekerjaan di level rendah dan sementara, sehingga janji “serapan tenaga kerja besar” tidak berpihak pada warga Bulukumba.” 06 Februari 2026
“Pariwisata dan ekonomi berbasis budaya/ekologi memberi efek berganda yang luas: usaha kecil, kerajinan, kuliner, transportasi lokal. Sebaliknya, industri petrokimia cenderung terpusat dan tertutup, dengan keuntungan mengalir ke perusahaan besar, bukan ke masyarakat sekitar. Jika pariwisata terganggu, masyarakat kehilangan sumber penghasilan yang lebih inklusif dan berkelanjutan”. Lanjut Fajri
Industri petrokimia bukanlah solusi tenaga kerja di Bulukumba, serapan tenaga kerja hanya bersifat sementara, risiko yang ditimbulkan dapat menghancurkan sektor, pariwisata dan ekonomi lokal yang telah terbukti berkelanjutan.
Bulukumba membutuhkan pembangunan yang berpihak pada masyarakat, lingkungan, dan budaya, bukan janji palsu yang mengorbankan masa depan.
“Janji serapan tenaga kerja dari industri petrokimia hanyalah fatamorgana. Yang nyata adalah ancaman terhadap laut, pantai, dan pariwisata kita. Bulukumba tidak butuh pabrik yang menutup sumber penghidupan rakyat, Bulukumba butuh pembangunan yang menjaga alam dan budaya,” tegas Gerakan Perlawanan Rakyat Bulukumba.

