Takalar SulSel — Polemik keterlambatan pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMPN 2 Mappakasunggu mulai memicu sorotan serius. Hingga memasuki awal Mei 2026, dana yang menjadi urat nadi operasional sekolah tersebut dilaporkan belum juga cair.
Dampaknya, honor sejumlah pegawai honorer belum terbayarkan dan memunculkan keresahan di internal sekolah.
Persoalan ini mencuat saat sejumlah awak media mendatangi sekolah untuk melakukan konfirmasi terkait pembayaran langganan media. Namun, di balik itu terungkap fakta mengejutkan bahwa pihak sekolah disebut tengah mengalami kendala keuangan akibat dana BOS yang tak kunjung turun.
Sejumlah pegawai mengaku kebingungan lantaran hingga kini belum ada penjelasan terbuka dari pihak manajemen sekolah terkait penyebab tersendatnya pencairan anggaran tersebut.
“Sudah lama kami menunggu, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami juga tidak tahu di mana letak persoalannya karena belum ada penjelasan resmi,” ungkap salah seorang pegawai yang meminta namanya dirahasiakan.
Keterlambatan ini bukan sekadar persoalan administrasi. Di lapangan, dampaknya mulai dirasakan langsung oleh para tenaga honorer yang menggantungkan penghasilan dari dana operasional sekolah. Beberapa pegawai mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari lantaran honor mereka belum dibayarkan.
Yang menjadi tanda tanya besar, berdasarkan informasi yang beredar di kalangan tenaga pendidik, mayoritas sekolah menengah pertama lain di Kabupaten Takalar disebut telah lebih dulu menerima pencairan dana BOS.
Kondisi ini memicu pertanyaan di internal sekolah: mengapa hanya SMPN 2 Mappakasunggu yang hingga kini belum menerima pencairan?
Minimnya keterbukaan informasi dari pihak sekolah membuat spekulasi terus berkembang. Sejumlah guru dan staf menilai, pihak manajemen sekolah seharusnya segera memberikan penjelasan resmi agar polemik ini tidak semakin liar di tengah publik.
“Kalau memang ada kendala administrasi atau teknis, sampaikan secara terbuka. Jangan sampai kami terus dibiarkan dalam ketidakpastian,” ujar salah seorang tenaga pendidik.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SMPN 2 Mappakasunggu belum memberikan tanggapan resmi terkait alasan keterlambatan pencairan dana BOS tersebut.
Situasi ini mendorong harapan besar agar Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar segera turun tangan melakukan penelusuran dan evaluasi menyeluruh.
Pasalnya, jika dibiarkan berlarut-larut, persoalan ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada kesejahteraan tenaga honorer, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Kini, publik menanti jawaban: apa sebenarnya yang terjadi di balik mandeknya dana BOS SMPN 2 Mappakasunggu?

