Lewati ke konten utama
Jumat, 16 Oktober 2026 Tajam Aktual dan Terpercaya
BREAKING NEWS
Beranda » Berita » ARMADA: Pahami Konteks Pernyataan Fenny Frans, Jangan Terburu Menghakimi
Berita

ARMADA: Pahami Konteks Pernyataan Fenny Frans, Jangan Terburu Menghakimi

MAKASSAR, SULSEL — Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Rakyat Mandiri dan Berdaulat (DPP ARMADA) mengimbau insan pers dan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan polemik pernyataan pengusaha kosmetik Fenny Frans yang belakangan menjadi sorotan publik.

Ketua DPP ARMADA, Ahmad Rinal, menegaskan bahwa setiap pernyataan harus dipahami secara utuh, dengan mempertimbangkan konteks percakapan, situasi, serta pihak yang menjadi sasaran ucapan tersebut.

Menurut Ahmad, ungkapan Fenny Frans dalam bahasa Makassar, “Kau wartawan ngaseng”, perlu dicermati berdasarkan situasi ketika kalimat itu disampaikan.

Ia menilai, ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai pertanyaan kepada orang-orang yang berada di lokasi kejadian mengenai apakah mereka semua wartawan.

Karena itu, Ahmad mengingatkan agar pernyataan tersebut tidak langsung ditafsirkan sebagai serangan terhadap seluruh insan pers di Indonesia.

“Jangan sampai pernyataan yang ditujukan kepada orang-orang tertentu di lokasi kejadian justru ditafsirkan seolah-olah ditujukan kepada seluruh wartawan,” ujar Ahmad Rinal, Kamis (15/10/2026).

Ahmad Rinal Soroti Konteks Pernyataan

Ahmad, yang merupakan lulusan Sekolah Jurnalis Indonesia, juga menanggapi pernyataan Fenny Frans yang menyebut dirinya tidak takut menghadapi pihak tertentu.

Menurutnya, pernyataan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi percakapan.

Termasuk di dalamnya, dugaan adanya ungkapan yang dianggap merendahkan anak Fenny Frans.

Ahmad berpandangan, apabila pernyataan tersebut muncul sebagai reaksi emosional atas persoalan keluarga, latar belakang itu patut dipertimbangkan dalam menilai persoalan secara menyeluruh.

“Jika seseorang merasa anaknya mendapatkan perlakuan atau ungkapan yang merendahkan, tentu ada reaksi emosional yang bisa muncul. Karena itu, kita perlu melihat persoalan secara menyeluruh sebelum memberikan penilaian,” katanya.

Meski demikian, Ahmad menegaskan bahwa setiap pernyataan tetap harus dinilai secara objektif berdasarkan fakta dan rangkaian peristiwa yang lengkap.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan potongan video atau kalimat tertentu yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman ketika dipisahkan dari konteks aslinya.

Insan Pers Diminta Tetap Profesional

Ahmad Rinal juga mengajak insan pers untuk tetap mengedepankan profesionalisme dalam menyikapi polemik tersebut.

Menurutnya, tugas jurnalistik bukan sekadar menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga memastikan setiap berita melalui proses verifikasi dan pengujian fakta.

Keterangan dari pihak-pihak terkait, lanjutnya, perlu dipertimbangkan agar pemberitaan tetap berimbang dan proporsional.

Ia berharap pemberitaan mengenai Fenny Frans tidak memperkeruh situasi yang sedang berkembang.

“Insan pers merupakan profesi yang membutuhkan kecerdasan, ketelitian, dan kemampuan menalar. Karena itu, setiap ungkapan yang muncul harus disaring dan dipahami dengan baik,” tegasnya.

Ahmad mengingatkan agar setiap pernyataan tidak langsung diterima mentah-mentah tanpa menelaah konteks dan fakta yang melatarbelakanginya.

Kebebasan Pers dan Hak Klarifikasi

Ahmad menegaskan bahwa kebebasan pers merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.

Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab profesional, ketelitian, dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik.

Di sisi lain, setiap pihak yang menjadi sorotan pemberitaan juga memiliki ruang untuk menyampaikan klarifikasi, bantahan, maupun penjelasan atas informasi yang dianggap tidak sesuai dengan fakta.

Menurut Ahmad, perbedaan pandangan tidak seharusnya berkembang menjadi konflik berkepanjangan antara pihak yang bersangkutan dan insan pers.

ARMADA mengajak seluruh pihak mengedepankan penalaran, objektivitas, dan etika komunikasi dalam menyikapi polemik tersebut.

Ahmad juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Ia berharap semua pihak diberikan ruang yang sama untuk menjelaskan duduk persoalan secara menyeluruh.

Pada akhirnya, penilaian terhadap pernyataan Fenny Frans, menurut Ahmad, harus didasarkan pada fakta, konteks, dan rangkaian peristiwa yang lengkap, bukan semata-mata potongan kalimat yang beredar di ruang digital.

 

Laporan : Darman Rahman

K
Kilas Jurnalis
Penulis Berita